Punya pertanyaan seputar kanker ?

Bergabung dengan forum kami

MENU

Home > Panduan Nutrisi >

Perlukah Kemoterapi Pada Kanker Payudara Stadium Dini? Part 1   

Perlukah Kemoterapi Pada Kanker Payudara Stadium Dini? Part 1   

 

Kanker payudara merupakan kanker dengan insiden yang paling banyak ditemukan pada wanita. Data di Amerika Serikat menunjukkan 1 diantara 8 wanita akan terdiagnosa kanker payudara sepanjang hidupnya. Pada tahun 2020 di Amerika Serikat diperkirakan akan terjadi 276.480 kasus baru kanker payudara1. Data di Indonesia merujuk pada data Kemenkes yang dipaparkan pada tanggal 31 Januari 2019, insiden kanker payudara adalah 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata rata kematian 17 per 100.000 penduduk2.

 

Ada perbedaan mencolok dalam hal stadium (tingkat keparahan penyakit) kanker payudara yang ditemukan di negara maju dan di negara berkembang. Di negara negara maju sebagian besar kanker payudara ditemukan dalam stadium yang masih dini3.  Hal ini disebabkan karena tingkat kesadaran dan pendidikan di negara maju jauh lebih baik. Di negara negara maju sebagian besar warganya rajin melakukan pemeriksaan terhadap dirinya sendiri dan sudah banyak fasilitas fasilitas untuk melakukan deteksi dini kanker payudara, bahkan di beberapa negara sudah melakukan program screening massal, sehingga sebagian besar kanker payudara ditemukan  pada stadium  yang masih dini. Dan jika ditemukan gejala gejala kanker payudara mereka segera berobat ke dokter. Jika kanker payudara ditemukan dalam stadium yang masih dini, pengobatannya akan lebih mudah dan harapan hidup pasien akan sangat panjang, bisa lebih dari 10 tahun tanpa kekambuhan. Saat ini banyak pasien yang dapat menjalani hidup setelah selesai pengobatan lebih dari 20 tahun, tanpa kekambuhan.

 

Sebaliknya di negara negara berkembang kanker payudara sebagian besar ditemukan pada stadium yang sudah lanjut. Sehingga pengobatannya lebih kompleks dan harapan hidupnya lebih pendek, sebagian besar dibawah 5 tahun 4. Hal ini karena tingkat kesadaran masyarakat di negara berkembang masih belum tinggi, masih banyak pasien yang setelah terdiagnosa kanker payudara mencari pengobatan alternatif. Dan kembali lagi ke pengobatan medis setelah penyakitnya bertambah parah. Namun perlahan tetapi pasti trend jumlah pasien kanker payudara yang berobat pada stadium yang dini semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan perlunya pemeriksaan diri sendiri dan meningkatnya peran pemerintah serta swasta dalam menyediakan fasiltas deteksi dini kanker payudara.

 

Pada pasien kanker payudara stadium dini, biasanya dokter akan melakukan operasi atau mengangkat kanker payudara pasien. Setelah dilakukan operasi terapi selanjutnya akan dipertimbangkan yaitu pemberian radioterapi dan terapi sistemik dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Terapi sistemik tersebut dapat berupa kemoterapi, terapi hormonal, dan terapi menggunakan obat anti HER2. Atau kombinasi dari dua atau tiga terapi ini, tergantung dari pertimbangan dokter. Dokter akan menentukan terapi sistemik berdasarkan karakteristik tumor, seperti status reseptor hormon

 

ER/PR (ER/PR positif mempunyai resiko kambuh yang lebih rendah dibandingkan yang negatif), status reseptor HER2 (HER2 positif mempunyai resiko kambuh yang lebih besar dibandingkan yang negatif), grading (skala yang digunakan 1-3, semakin besar gradingnya, resiko kambuhnya semakin besar), ukuran tumor (semakin besar ukuran tumor, resiko kambuhnya semakin besar), dan status kelenjar getah bening (jika belum ada penyebaran kanker ke kelnjar getah bening, resiko kambuhnya lebih rendah). Selain karakteristik tumor kondisi pasien juga akan menjadi pertimbangan seperti  usia,  status pre atau post menapouse dan kondisi umum pasien. Berdasarkan pertimbangan pertimbangan di atas, ada kelompok pasien yang mempunyai resiko kekambuhan kanker yang rendah, sehingga kelompok pasien ini setelah operasi tidak membutuhkan kemoterapi namun hanya terapi hormonal. Ada juga pasien yang berdasarkan pertimbangan faktor faktor di atas masuk dalam kelompok yang kankernya mempunyai resiko kambuh yang besar, sehingga untuk kelompok pasien ini setelah operasi dianjurkan untuk mendapatkan terapi hormonal dan kemoterapi5.

 

References :

  1. Breast Cancer, American Cancer Society, 2019.
  2. Kemenkes : Kanker payudara dan serviks paling banyak di Indonesia, tirto.id, 4 Pebruari 2019.
  3. Ardiansyah, Azriel Okta, Deteksi Dini Kanker, Penerbit Erlangga, 2019.
  4. Ramli, Muchlish, Updated Breast Cancer Management Diagnostic and Treatment, Majalah Kedokteran Andalas, Vol. 38, No. Supl.1, Agustus, 2015
  5. Cardoso et al, 70-gene Signature as An Aid to Treatment Decision in Early Stage Breast Cancer, New England Journal Medicine, Vol. 375 no. 8, August 25, 2016

ICCC HELPLINE

Bersama kita berjuang melawan kanker. Hubungi kami di +6281 117 117 98 atau info@iccc.id

KIRIM EMAIL