Punya pertanyaan seputar kanker ?

Bergabung dengan forum kami

MENU

Home > Panduan Nutrisi >

Leukemia Mieloid Kronik

Leukemia Mieloid Kronik

Leukemia atau dikenal juga dengan kanker darah adalah keganasan yang berasal dari sel-sel pembentuk sel darah dalam sumsum tulang. Jika salah satu dari sel tersebut berubah dan menjadi sel leukemia maka sel tersebut tidak dapat menjadi matang seperti seharusnya. Bahkan sering dijumpai bahwa sel tersebut membelah membentuk sel baru dengan lebih cepat. Selain itu, sel leukemia juga tidak mengalami kematian saat seharusnya terjadi kematian sel. Sel leukemia akan menumpuk dalam sumsum tulang dan melebihi sel normal. Pada waktu tertentu, sel leukemia masuk ke dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan jumlah sel darah putih dalam darah meningkat. Setelah berada dalam darah, sel leukemia dapat menyebar ke organ lain dan mengganggu fungsi organ tersebut. 

Pada leukemia, dikenal ada leukemia akut dan kronik. Leukemia akut merupakan penyakit yang berkembang lebih cepat yang terjadi pada sel-sel yang belum matang di mana sel-sel ini tidak dapat melakukan fungsinya dengan normal. Leukemia kronik merupakan penyakit yang berkembang lambat sehingga sel-sel yang terkena adalah sel yang lebih matang (dibandingkan tipe akut) di mana sel-sel ini dapat menjalankan sebagian fungsi normal. Selain akut dan kronik, kita juga mengenal istilah limfositik dan mielositik berdasarkan jenis sel. Leukemia dikatakan limfositik (atau dikenal dengan limfoblastik) jika keganasan atau kanker terjadi pada sel dalam sumsum tulang yang membentuk limfosit (jenis sel darah putih yang akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi). Leukemia dikatakan mieloid jika keganasan atau kanker terjadi pada sel dalam sumsum tulang yang membentuk sel darah merah, sebagian sel darah putih, dan trombosit (keping-keping darah). 

Menurut Globocan tahun 2018, leukemia tidak termasuk dalam 10 besar kanker terbanyak di dunia. Kasus baru leukemia diperkirakan sebanyak 437.000 dan kematian karena leukemia diperkirakan sebanyak 309.000 kematian pada tahun 2018. Sementara di Indonesia, leukemia termasuk dalam 10 besar kanker terbanyak di mana kasus barunya diperkirakan sebanyak 13.400 dan kematian karena leukemia sebanyak 11.300 kematian pada tahun 2018. 

Leukemia mieloid kronik dapat disebut juga dengan leukemia mielogenous kronik, leukemia granulositik kronik, dan leukemia mielositik kronik. Leukemia mieloid kronik adalah keganasan yang dijumpai pada sel-sel dalam sumsum tulang yang membentuk sel darah merah, sebagian sel darah putih, dan trombosit yang perjalanannya lambat. Penyakit ini terjadi akibat mutasi (perubahan materi genetik) DNA sel punca (sel yang akan membentuk sel darah) dalam sumsum tulang dan umumnya merupakan mutasi yang didapat (bukan sejak lahir). Perubahan materi genetik ini membentuk gen abnormal yang disebut BCR-ABL atau kromosom Philadelphia.

Sel leukemia mieloid kronik bertahan hidup lebih baik dibandingkan sel normal dan biasanya kurang bersifat berat dibandingkan leukemia akut tetapi dapat berubah menjadi keadaan akut yang sulit diobati. Akibat dari pertumbuhan sel leukemia mieloid kronik, jumlah sel darah yang normal umumnya lebih rendah dibandingkan nilai normalnya. Pasien dapat mengalami anemia (dapat mengalami lelah dan sesak napas), neutropenia (penurunan salah satu jenis sel darah putih), trombositopena (penurunan jumlah trombosit yang dapat menyebabkan perdarahan atau lebam). Jika semua sel darah mengalami penurunan, maka disebut dengan pansitopenia. 

Di Amerika, diperkirakan terdapat 8.450 kasus baru leukemia mieloid kronik dan 1.130 orang meninggal karena penyakit tersebut pada tahun 2020. Dalam suatu penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2018, disebutkan bahwa terdapat sejumlah 2.374 pasien dengan leukemia mieloid kronik di Indonesia. Usia rata-rata saat didiagnosis penyakit ini adalah sekitar 64 tahun. Hampir separuh dari kasus ini didiagnosis pada usia 65 tahun atau lebih. Leukemia jenis ini terutama ditemukan pada orang dewasa dan jarang dijumpai pada anak. Sekitar 15% dari leukemia pada dewasa adalah leukemia mieloid kronik.

 Para ahli belum mengetahui penyebab pasti penyakit ini dan faktor risikonya adalah

  • Pajanan radiasi: terpajan radiasi dosis tinggi misalnya pada mereka yang berhasil selamat dari ledakan bom atom atau kecelakaan reaktor nuklir.
  • Usia: risiko meningkat dengan meningkatnya usia.
  • Jenis kelamin: sedikit lebih sering dijumpai pada pria dibandingkan wanita tetapi belum diketahui mengapa.

 

Gejala dari leukemia mieloid kronik sering kali tidak jelas seperti lemah, lelah, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, demam, nyeri tulang (karena penyebaran ke tulang atau sendi), pembesaran organ limpa, nyeri atau merasa penuh di perut, merasa cepat kenyang. Tanda yang paling sering dijumpai adalah jumlah sel darah putih yang abnormal. 

Banyak orang dengan leukemia mieloid kronik tidak memiliki gejala saat didiagnosis. Leukemia sering ditemukan pada waktu pemeriksaan medis rutin. Bahkan jika terdapat gejala, sering kali tidak jelas dan tidak spesifik. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan darah lengkap. Sebagian besar pasien memiliki sel darah putih belum matang yang terlalu banyak (disebut juga dengan mieloblast atau blast). Pemeriksaan lain yang dilakukan adalah pemeriksaan pada sumsum tulang di mana akan dijumpai keadaan hiperseluler karena sumsum tulangnya penuh dengan sel leukemia. Pemeriksaan darah lain dilakukan untuk mengetahui permasalahan pada organ hati atau ginjal karena penyebaran sel leukemia atau efek samping obat. Karena pada penyakit ini terdapat gen abnormal, pemeriksaan genetik dilakukan untuk mencari adanya kromosom Philadelphia dan/atau gen BCR-ABL. Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi diagnosis leukemia mieloid kronik. Pemeriksaan tambahan yang juga dilakukan adalah pemeriksaan pencitraan (CT Scan, MRI, ultrasound) untuk melihat apakah ada pembesaran organ atau penyebaran pada organ lain. 

Ada 3 fase dari leukemia mieloid kronik yaitu:

  • Fase kronik: jumlah blast dalam darah dan sumsum tulang kurang dari 10%. Pada fase ini, mungkin bergejala atau tidak ditemukan gejala. Jika diobati, pasien akan membaik secara cepat dan terdapat perbaikan gejala. Pasien dapat melanjutkan aktivitas normalnya.
  • Fase akselerasi: jumlah blast dalam darah dan/atau sumsum tulang lebih tinggi dari normal. Pasien akan mengalami gejala yang lebih berat.
  • Fase krisis blast: jumlah blast dalam darah dan/atau sumsum tulang lebih dari 20%. Pasien mengalami anemia, neutropenia, trombositopenia, penyebaran blast di luar darah dan sumsum tulang, serta gejala-gejala seperti lelah, sesak napas, nyeri perut, nyeri tulang, pembesaran limpa, perdarahan, infeksi. Fase ini seperti leukemia akut.

Tanpa pengobatan yang efektif, leukemia mieloid kronik pada fase kronik akhirnya akan berubah menjadi fase akselerasi dan kemudian menjadi fase krisis blast dalam 3-4 tahun setelah didiagnosis. 

Leukemia mieloid kronik diobati dengan pemberian terapi target yaitu obat golongan penghambat tyrosine kinase (misalnya imatinib, nilotinib, dasatinib, dll), interferon (obat yang menyerupai bagian dari sistem imun untuk mengurangi pertumbuhan dan pembelahan sel leukemia), kemoterapi, terapi radiasi, transplantasi sel punca. Jika sedang mendapat terapi target, dokter akan melakukan pemeriksaan darah, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lain seperti sumsum tulang dan PCR, setidaknya setiap 3 bulan sekali pada tahun pertama pengobatan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana respons terhadap terapi target. 

Sampai saat ini tidak terdapat cara yang spesifik untuk mencegah penyakit leukemia mieloid kronik dan bahkan belum ada pemeriksaan skrining rutin untuk mendeteksi penyakit ini. Penyakit ini sering kali terdeteksi saat melakukan pemeriksaan medis rutin yang menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih walaupun tidak merasakan gejala apapun. Dengan demikian, penting sekali untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mendapati adanya gejala yang mungkin terkait dengan penyakit ini agar dapat diberikan pengobatan yang optimal.

 

Referensi:

  1. Chronic myeloid leukemia (CML). American Cancer Society [Internet]. 2020 [cited 2020 Dec 3]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/chronic-myeloid-leukemia.html
  2. Chronic myeloid leukemia. Leukemia & Lymphoma Society [Internet]. 2014 [cited 2020 Dec 3]. Available from: https://www.lls.org/sites/default/files/file_assets/cml.pdf
  3. Indonesia. Globocan 2018. IARC [Internet]. 2018 [cited 2020 March 11]. Available from: https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf
  4. World. Globocan 2018. IARC [Internet]. 2020 [cited 2020 Dec 3]. Available from: https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/900-world-fact-sheets.pdf
  5. Reksodiputro AH, Atmakusuma TD, Hantoro IF, Rebecca RV. Chronic myeloid leukemia in Indonesia. Proceedings of Conference: 2018 Highlights of ASH in Asia-Pacific; 2018; Bali, Indonesia.
  6. Leukemia – chronic myeloid – CML: Phases. Cancer.Net [Internet]. 2018 [cited 2020 Dec 3]. Available from: https://www.cancer.net/cancer-types/leukemia-chronic-myeloid-cml/phases

 

Berita ICCC Terbaru

ICCC HELPLINE

Bersama kita berjuang melawan kanker. Hubungi kami di +6281 117 117 98 atau info@iccc.id

KIRIM EMAIL