Image source : https://www.livescience.com
Apakah bedak talc menyebabkan kanker? Pertanyaan ini sering ditanyakan dan setidaknya sejumlah 13.000 orang berpikir demikian. Mereka bahkan telah menuntut sebuah perusahaan yang menghasilkan produk-produk berbasis talcum. Sampai sejauh ini, terdapat 2 kubu terkait permasalahan ini. Pada bulan Maret 2019, juri di New Jersey mengatakan bahwa perusahaan bedak bayi tersebut tidak menyebabkan mesotelioma (kanker yang berasal dari jaringan tipis pelapis organ), namun pada musim panas kemarin, pengadilan di Missouri memerintahkan perusahaan tersebut membayar sejumlah $ 4,69 miliar pada 22 wanita dan keluarganya yang mengklaim produknya menyebabkan kanker ovarium (indung telur).
Pertanyaan mengenai bedak talc tersebut menarik perhatian peneliti Ghassan Saed di Michigan. Menurut beliau, sama seperti jutaan wanita yang mengoleskan bedak talc di area kelamin, talc yang merupakan mineral yang sering digunakan dalam kombinasi dengan tepung jagung dalam bedak bayi, memiliki sifat inert dan tidak berbahaya.
Sebelumnya ada bukti yang mengkaitkan penggunaan bedak talc dengan peningkatan risiko kanker ovarium dari 2 penelitian di tahun 2016 di mana peneliti menanyakan pada wanita dengan kanker ovarium terkait rutinitas grooming-nya. Pada penelitian pertama, wanita yang melaporkan menggunakan bedak talc di area kelaminnya 44% lebih mungkin didiagnosis kanker ovarium. Penelitian kedua juga menunjukkan kesimpulan yang hampir sama.
Pada penelitian tahun 2017, disebutkan bahwa kaitan antara penggunaan bedak talc di daerah kelamin dengan kanker ovarium masih belum konsisten. Peneliti mengatakan bahwa ada kemungkinan kaitannya tetapi di sisi lain, hal itu mungkin disebabkan oleh faktor lain. Oleh karena itu, peneliti menyebutkan mengenai perlunya penelitian yang melibatkan wanita sehat dan menanyakan mengenai penggunaan bedak talc dan melihat berapa banyak yang akhirnya mengalami kanker ovarium.
Namun, penelitian baru pada sel ovarium yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan perkumpulan ginekologi onkologi tahun 2019 di Hawaii, tim peneliti Dr. Saed menemukan adanya kaitan antara talc dan peradangan pada sel ovarium normal dan sel kanker ovarium. Kontak antara talc dan sel-sel tersebut menyebabkan terjadinya oksidasi di mana pengaruhnya pada sel hidup bersifat serius dan menyebabkan keganasan. Pada keadaan oksidatif, terjadi ketidakseimbangan kimia yang menyebabkan sel menjadi stres dan memicu perubahan keganasan. Mereka menemukan bahwa bedak talc menyebabkan perubahan materi genetik pada gen CAT, NOS, dan GPX1. Hal lain yang mengejutkan adalah bahwa kanker ovarium berawal dari tuba falopi.
Dr. Saed melakukan penelitian selanjutnya yang menggunakan bedak talc yang diinjeksikan pada sistem reproduksi hewan tikus dan beliau berharap bahwa hasil temuan penelitiannya akan memberikan konfirmasi dan informasi penting mengenai penggunaan bedak talc di area kelamin.
Referensi:
Healthy Person
Healthy Person
Healthy Person
Bersama kita berjuang melawan kanker. Hubungi kami di +6281 117 117 98 atau info@iccc.id
KIRIM EMAIL