Punya pertanyaan seputar kanker ?

Bergabung dengan forum kami

MENU

Home > Sekilas Kanker >

Faktor gaya hidup dan risiko kanker kolorektal

Faktor gaya hidup dan risiko kanker kolorektal

Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak di seluruh dunia dan termasuk penyebab kematian keempat karena kanker. Harapan hidup penderita kanker kolorektal sangat tergantung pada stadium saat didiagnosis, dengan stadium lanjut memiliki harapan hidup yang lebih pendek. Peneliti menganalisis sejauh mana faktor gaya hidup mempengaruhi risiko mengalami kanker kolorektal. Data ini didapat dari 99 studi di seluruh dunia. Studi-studi tersebut melibatkan lebih dari 29 juta orang dewasa dan lebih dari 247.000 kasus kanker kolorektal.

Peneliti mencatat bahwa terdapat bukti kuat mengenai:

  • Aktivitas fisik menurunkan risiko kanker kolon.

Aktivitas fisik menurunkan lemak tubuh dan memiliki efek bermanfaat terhadap risiko kanker kolorektal, mungkin melalui penurunan resistensi insulin dan inflamasi (peradangan). Kedua hal ini dikaitkan dengan terjadinya kanker kolorektal.

  • Mengonsumsi gandum utuh, makanan yang mengandung serat, dan produk susu serta mengonsumsi suplemen kalsium menurunkan risiko kanker kolorektal. Gandum termasuk sumber serat, yang menurunkan risiko kanker kolorektal melalui pembentukan asam lemak rantai pendek oleh mikrobiota usus, menurunkan waktu transit usus, dan mencegah resistensi insulin (faktor risiko kanker kolorektal). Serat dalam usus difermentasi membentuk asam lemak rantai pendek seperti butyrate, yang memiliki efek anti-proliferatif menurut penelitian. Asupan serat menurunkan risiko kanker kolorektal dengan menurunkan waktu transit usus dan meningkatkan massa feses, yang mana hal ini berpotensi mengurangi mutagen feses berinteraksi dengan mukosa kolon.
  • Mengoonsumsi daging merah, daging olahan, atau sekitar 2 atau lebih minuman alkohol per hari meningkatkan risiko kanker kolorektal. Memasak daging pada suhu tinggi menghasilkan pembentukan heterocyclic amine dan polycyclic aromatic hydrocarbon, keduanya dikaitkan dengan terjadinya kanker kolorektal dalam penelitian. Daging olahan termasuk sumber senyawa N-nitroso yang berpotensi karsinogenik. Konsumsi ethanol dalam jumlah besar dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang sifatnya genotoksik dan karsinogenik.
  • Berat badan berlebih atau obesitas dan memiliki tubuh tinggi meningkatkan risiko kanker kolorektal. 

Terdapat pula beberapa bukti yang menyebut bahwa:

  • Mengonsumsi makanan mengandung vitamin C menurunkan risiko kanker kolon.
  • Mengkonsumsi ikan, vitamin D, dan suplemen multivitamin menurunkan risiko kanker kolorektal.
  • Rendahnya konsumsi sayur-sayuran dan buah mungkin meningkatkan risiko kanker kolorektal.
  • Konsumsi sayur-sayuran menyediakan agen yang berpotensi sebagai anti-tumor seperti serat, carotenoid, vitamin C dan E, selenium, dll. Serupa dengan sayur-sayuran, buah-buahan termasuk sumber yang kaya vitamin C dan E serta senyawa lainnya dengan potensi anti-tumor.

Hasil penelitian ini dimasukkan dalam laporan yang dipublikasikan oleh the American Institute for Cancer Research dan the World Cancer Research Fund pada September 2017. 

Referensi:
World Cancer Research Fund International/American Institute for Cancer Research. Continuous update project report: Diet, nutrition, physical activity and colorectal cancer [Internet]. 2017 [cited 2017 Sept 21]. Available from: http://www.wcrf.org/sites/default/files/CUP Colorectal Report_2017_Digital.pdf


Strong evidence for healthy lifestyle reducing CRC risk. Practice Update [Internet]. 2017 Sept 11 [cited 2017 Sept 21]. Available from: https://www.practiceupdate.com/content/strong-evidence-for-healthy-lifestyle-reducing-crc-risk/57956/52/6/2

ICCC HELPLINE

Bersama kita berjuang melawan kanker. Hubungi kami di +6281 117 117 98 atau info@iccc.id

KIRIM EMAIL